Skip to main content

Featured Post

Cara Memesan Tiket DAMRI Online dan Tarif Dari Bandung 2025

Secangkir Kopi dari Sibane Bane

Udara dingin masih menusuk meski tubuh sudah berbalut selimut. Sesekali suara endusan kerbau terdengar dari barak di bawah rumah panggung khas Batak ini. Menjadi kebiasaan Namboru (Bibi / saudara perempuan dari Bapak) mulai menyalakan api di tungku dapur sejak pagi buta. Selain menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya yang akan berangkat sekolah, duduk di depan tungku api membuat badan tetap hangat. Udara dingin memang menjadi ciri khas Sibane-Bane, Aek Nauli, Samosir. Pulang ke tanah kelahiran Bapak menjadi kebahagiaan bagi saya ketika ingin menjauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Desa Aek Nauli sudah sedikit lebih baik sekarang, listrik sudah ada, beberapa rumah sudah mempunyai bak penampungan yang terisi air jika hujan datang. Berhemat air adalah nasehat yang paling sakti di desa ini. Akses jalan yang buruk membuat mobil tanki terkadang berat hati untuk menghantarkan air ke desa di dataran tinggi Pulau Samosir ini. Alunan lagu-lagu Batak terdengar dari radio yang dimiliki bibi. Pagi ini dingin terasa lebih menusuk, hujan mengguyur tanah Batak ini semalaman. Abang yang menjemput saya di tepian Danau Toba kemarin sore sungguh kesusahan mengendarai sepeda motornya melewati jalanan berlubang dan berlumpur.




Menjadi spesial karena Bibi tidak pernah membangunkan saya dari lelap. Meski demikian rasa segan segera datang. Terbiasa tinggal di daerah panas tepi pantai beberapa tahun terakhir membuat rasa dingin kali ini menjadi jadi. Aroma kopi khas Samosir ternyata mampu mengalahkan suasana pagi itu. Segera saya berpindah ke ruang belakang rumah yang dijadikan dapur. Sebentar menghangatkan tubuh di depan tungku api. Kopi yang diseduh bibi tidak seperti kopi yang sering saya nikmati di Bumi Serambi Mekah. Kebanyakan orang menyebutnya dengan nama kopi tubruk. Kopi yang sudah dicampur dengan gula putih kemudian diseduh dengan air mendidih yang baru turun dari tungku perapian. Ini yang menjadi ciri khas kopi dari Aek Nauli, harum mewangi memenuhi isi ruang. Bahkan ketika saya turun ke kamar mandi di luar rumah, harumnya masih terasa.

Kopi yang disajikan berasal dari kebun sendiri. Kopi ditanam oleh bibi dan keluarganya. Pengolahan kopi sendiri masih dilakukan secara tradisional. Kopi yang telah dipetik dijemur di halaman rumah, mengandalkan teriknya matahari. Saya tidak tahu pasti bagaimana warga desa Aek Nauli memperkirakan tingkat keringnya kopi. Setelah cukup kering, kopi ditumbuk secara manual dengan penumbuk dari batu besar yang terlihat di depan rumah. Kopi ditumbuk sampai halus benar. Agar kopi terpisah dengan yang masih kasar, bubuk kopi tersebut ditampi menggunakan alat tampi dari anyaman bambu. Kemudian kopi disimpan ke dalam kaleng.

Cangkir yang terbuat dari seng menambah kenikmatan kopi pagi ini. Bibi sungguh lihai memadukan kopi dan gula pagi ini. Sembari berbincang dan sesekali bersenda gurau tak terasa kopi sudah sisa separuh dalam cangkir. Berbeda dengan beberapa kopi tubruk yang pernah saya nikmati, kopi pagi ini tidak banyak menyisakan bubuk yang naik ke permukaan cangkir. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk dapat langsung menikmati kopi pagi ini. Layaknya seperti menikmati kopi di tempat lain, minumlah kopi ketika suhu air kopi masih panas. Jika sudah dingin bisa membuat perut menjadi kembung. Penasaran dengan kopi yang telah dinikmati, saya langkahkan kaki pagi itu untuk melihat langsung pohon kopi di sekitar rumah.

Warga Aek Nauli tidak sedikit yang menanam kopi sebagai mata pencaharian. Padi merupakan tanaman lain yang menjadi batu sandaran warga desa ini. Seperti beberapa ladang kopi yang saya pernah lihat di daerah Aceh Tengah, tanaman kopi disini berbaris rapi. Ditanam berjarak sehingga dahan dan rantingnya tidak semerawut dan bersinggungan dengan batang lain. Jarak tanaman juga sengaja dibuat agar dapat lebih mudah ketika proses pemberian pupuk dan proses pemetikan kopi. Tinggi batang disini terlihat kisaran 1-2 meter. Rimbun dan berbuah lebat. Jika saja akses transportasi menuju desa ini lancar, maka distribusi hasil bumi dapat dilaksanakan setiap hari. Bukan tidak mungkin Aek Nauli dapat menjadi salah satu daerah penghasil kopi yang ternama seperti Kopi Karo, Kopi Gayo, Kopi Toraja. Karena kendaraan umum berupa Truk Besar hanya datang sekali dalam sepekan ke desa ini. Kendaraan yang hanya datang setiap hari Rabu, membawa hasil bumi dan juga warga Aek Nauli yang akan pergi ke Pasar Pangururan. Bantuan teknologi dalam pengolahan kopi tentunya akan mendukung proses produksi bubuk kopi Aek Nauli. Sehingga produk yang dijual tidak lagi hanya biji kopi.



Comments

Popular posts from this blog

Cara Merubah Tempat Duduk Kereta Api Yang Sudah Dipesan

Naik kereta api adalah salah satu pilihan transportasi yang mengasyikkan dan efisien, terutama bagi para pelancong yang mencari kenyamanan serta pemandangan yang menarik selama perjalanan. Dengan berbagai pilihan kelas dan rute yang tersedia, kereta api menawarkan pengalaman yang unik dibandingkan dengan moda transportasi lainnya. Baik untuk perjalanan jarak jauh atau sekadar perjalanan sehari-hari, kereta api dapat memberikan kenyamanan dan kepraktisan yang dibutuhkan. Namun, terkadang, Anda mungkin perlu menyesuaikan bangku Anda agar perjalanan menjadi lebih menyenangkan dan sesuai dengan preferensi Anda. Mengganti Bangku Kereta Api Mengganti bangku kereta api dapat dilakukan dengan mudah, baik secara offline maupun online. Jika Anda memutuskan untuk mengganti bangku secara offline, Anda perlu melakukan pengajuan di stasiun kereta yang telah ditentukan. Proses ini memerlukan verifikasi dan dapat dikenakan biaya administrasi. Penting untuk memperhatikan batas waktu pengajuan serta me...

Kuching Waterfront: A Journey Through Time and Tranquility

Ah, the Kuching Waterfront! If you’ve never been, you’re in for a treat. The first time I visited, I wasn’t sure what to expect. I'd heard about it from a few travel forums, and it seemed like a "must-visit," but you know how those can be hit or miss. Spoiler alert: Kuching Waterfront was a massive hit for me, and I’m not the kind of person who’s easily impressed by just a riverside promenade. Let me tell you about my first day there—it started off a little rough. I woke up later than planned (typical me), rushed through breakfast, and by the time I made it to the Waterfront, it was mid-morning. Honestly, I was kind of grumpy because the sun was already blazing, and I forgot to pack a hat. That humidity? Yikes. But you know what? The moment I stepped onto the walkway and saw the Sarawak River, all my worries kind of melted away. There’s something about that wide, calm river that just puts you in a good mood. It’s like the whole city takes a deep breath there. The beauty ...

Jadwal dan Tarif Bus Arimbi Rute Bandung - Merak

Bus Arimbi adalah pilihan transportasi yang nyaman dan terpercaya bagi para penumpang yang ingin melakukan perjalanan dari Bandung ke Merak, atau sebaliknya. Dengan fasilitas lengkap dan pelayanan yang memadai, Bus Arimbi menjadikan perjalanan Anda lebih mudah dan menyenangkan. Artikel ini akan membahas tentang rute, tarif, fasilitas, serta cara pembelian tiket Arimbi untuk perjalanan yang lancar. Rute Perjalanan Bus Arimbi Bus Arimbi melayani rute perjalanan dari Bandung menuju Merak dan sebaliknya. Perjalanan dimulai dari Terminal Leuwipanjang Bandung , yang merupakan titik keberangkatan utama. Dari sini, bus akan melewati beberapa daerah dan jalur utama seperti Tol Pasir Koja, Slipi, Kebun Jeruk, Serang , Cilegon , hingga akhirnya tiba di Merak . Lama perjalanan yang dibutuhkan sekitar 6 jam, tergantung kondisi lalu lintas. Rute ini melalui jalur tol utama yang cukup ramai, namun perjalanan tetap nyaman berkat fasilitas yang disediakan oleh Bus Arimbi. Fasilitas yang Menjamin Keny...