Skip to main content

Posts

Featured Post

Cara Mengajak Seluruh Warga Ikut Membangun Desa Wisata

Recent posts

Cara Mengelola Instagram Desa Wisata: Isi, Jadwal, dan Pembagian Tugas

  Desa Aek Nauli Kabupaten Samosir Bayangkan seorang pemuda desa bernama Dimas. Ia diminta Pokdarwis untuk “mengurus Instagram desa”. Minggu pertama ia mengunggah lima foto sekaligus. Minggu kedua ia sibuk di kebun, jadi akun itu kosong. Bulan ketiga, pengikutnya masih sedikit dan Dimas mulai bosan. Sementara itu, tamu yang bertanya lewat pesan tidak dibalas berhari-hari. Kejadian seperti ini sangat umum. Mengelola Instagram desa wisata memang butuh kebiasaan, bukan sekadar semangat awal. Tulisan ini membahas cara mengelola Instagram desa wisata dengan bahasa yang mudah: siapa yang mengurus, apa yang diunggah, seberapa sering, dan bagaimana membagi tugas. Mengapa Instagram Cocok untuk Desa Wisata? Instagram menampilkan foto dan video, dan itu yang dicari calon tamu: seperti apa desanya, makanannya, dan suasananya. Penelitian tentang akun Instagram Desa Kemiren di Banyuwangi menyimpulkan bahwa akun itu berhasil membangun citra pariwisata desa dengan memamerkan kekayaan budaya dan ke...

Cara Mempromosikan Desa di Internet: Google Maps, Website, dan Medsos

Instagram Desa Bayangkan seorang calon tamu di kota yang ingin berlibur akhir pekan ke desa. Ia membuka HP, mengetik “desa wisata dekat sini”, lalu melihat hasilnya. Desa yang punya foto, peta, dan nomor telepon yang jelas akan dipilih. Desa yang tidak muncul sama sekali, walaupun pemandangannya indah, tidak akan terpikir. Itulah alasan desa perlu ada di internet. Tulisan ini membahas cara mempromosikan desa di internet dengan langkah-langkah sederhana: Google Maps, situs Jadesta, halaman web desa, dan media sosial. Mengapa Desa Perlu Ada di Internet? Orang sekarang mencari tempat wisata, penginapan, dan makanan lewat HP. Kalau desa tidak ada di Google Maps atau media sosial, calon tamu sulit menemukan atau memastikan lokasinya. Ada alasan lain yang lebih resmi. Dalam seleksi Anugerah Desa Wisata Indonesia, penilaian dilakukan setelah desa mengisi data lewat situs Jadesta, dan desa yang belum masuk tahap akhir pun didorong untuk terus melengkapi datanya. Jadi data yang rapi di internet...

Pelatihan untuk Warga Desa Wisata: Apa yang Perlu Dipelajari Dulu

  Community Tourism Training at Balai Desa Bayangkan sebuah desa yang sudah punya homestay, jalur wisata, dan akun Instagram. Tamu mulai datang. Tetapi beberapa minggu kemudian ada keluhan: kamar kurang bersih, pemandu tidak tahu cerita desa, dan pesan di Instagram tidak dibalas. Desa itu punya modal, tetapi warganya belum dibekali keterampilan yang cukup. Begitulah alasan pelatihan penting. Tulisan ini membahas pelatihan apa yang perlu dipelajari lebih dulu oleh warga desa wisata, siapa yang bisa melatih, dan bagaimana supaya hasilnya benar-benar dipakai. Mengapa Pelatihan Itu Penting? Beberapa penelitian di desa wisata menunjukkan hal yang mirip. Di Desa Wisata Tamansari, rendahnya kepuasan tamu homestay berawal dari pemilik dan pengelola yang belum paham standar pelayanan, dan sebagian masih canggung melayani tamu dari luar negeri. Di desa wisata spiritual Gunung Salak, kendala utamanya adalah minimnya keterampilan warga membuat konten promosi digital. Penelitian di Desa Wisata ...

Cara Membentuk Pokdarwis dan Membuatnya Aktif Terus

  Toraja Nature Tourism Ticket Booth Bayangkan rapat di balai desa pada malam hari. Pak Kades menjelaskan rencana desa wisata, lalu bertanya, “Siapa yang mau mengurus?” Semua orang saling pandang. Ada yang mau membantu, tetapi tidak tahu harus bagaimana. Ada yang sibuk di kebun. Rapat bubar tanpa keputusan. Beberapa bulan kemudian, rencana itu menguap begitu saja. Kejadian seperti ini sering terjadi karena desa belum punya kelompok yang jelas untuk mengurus wisata. Di banyak desa, kelompok itu bernama Pokdarwis atau Kelompok Sadar Wisata. Tulisan ini menjelaskan cara membentuk Pokdarwis dan menjaga supaya tetap aktif. Apa Itu Pokdarwis? Pokdarwis adalah kelompok yang dibentuk oleh warga yang peduli dan mau mengembangkan pariwisata di daerahnya. Menurut buku pedoman Pokdarwis dari pemerintah, kelompok ini termasuk lembaga informal di tingkat masyarakat. Tujuan utamanya adalah menjadi mitra pemerintah dalam meningkatkan kesadaran warga tentang pariwisata, meningkatkan kemampuan warga...

Wisata Alam Desa: Cara Menata Jalur, Aturan, dan Pemandu Lokal

  Wisata Tubing Bayangkan sebuah desa di kaki bukit. Ada air terjun kecil di ujung kebun, sungai yang jernih, dan jalan setapak yang biasa dipakai warga mencari kayu. Suatu akhir pekan, ratusan anak muda datang karena fotonya tersebar di internet. Sampah berserakan, jalan setapak licin dan rusak, dan seorang pengunjung terpeleset. Warga yang tadinya senang menjadi cemas. Cerita seperti ini bisa dihindari kalau desa menyiapkan wisata alamnya dengan baik. Tulisan ini menjelaskan cara menata jalur, membuat aturan, dan melatih pemandu lokal supaya wisata alam desa aman bagi tamu dan tidak merusak alam. Apa yang Dimaksud Wisata Alam Desa? Wisata alam desa adalah kegiatan wisata yang memanfaatkan alam di sekitar desa, seperti bukit, sungai, hutan, air terjun, atau kebun. Kegiatannya bisa berupa jalan santai, mendaki, berkemah, bersepeda, mengamati burung, atau belajar tentang tanaman. Kalau dikelola dengan baik, wisata alam disebut ekowisata, yaitu wisata yang menjaga alam, mendidik peng...

Cara Menjual Oleh-Oleh Desa: Kemasan, Label, dan Cerita Produk

Keripik Pisang Lampung Bayangkan Bu Rina, pembuat keripik pisang di sebuah desa wisata. Rasanya renyah dan gurih, tetangganya selalu pesan. Suatu hari rombongan tamu menginap di homestay dan bertanya, “Ada oleh-oleh khas sini, Bu?” Bu Rina memberikan keripiknya dalam plastik bening tanpa label. Tamu itu ragu. Aman atau tidak? Tahan berapa lama? Dibuat oleh siapa? Apakah halal atau tidak. Akhirnya keripik itu tidak jadi dibeli. Cerita seperti ini sering terjadi. Produk desa sudah enak, tetapi belum siap dijual sebagai oleh-oleh. Tulisan ini membahas cara menjual oleh-oleh desa dengan kemasan yang rapi, label yang jelas, dan cerita yang membuat produk diingat. Oleh-Oleh Desa yang Laku Itu Seperti Apa? Ada tiga ciri yang mudah diingat: Khas. Hanya ada di desa Anda, atau dibuat dengan cara yang khas. Aman. Bahannya jelas, bersih, dan izinnya lengkap. Mudah dibawa. Tidak gampang hancur, tidak terlalu berat, dan tahan beberapa hari. Sebagai gambaran, dinas pariwisata Lampung pernah menyeb...